Mengintip Wajah dan Kualitas Anggota DPRD DKI yang Baru

Trans, Jakarta: Pemilu legislatif 2009 telah usai empat bulan lalu. Para anggota DPRD DKI yang baru terpilih berasal dari berbagai macam latar belakang profesi. Ada artis, anak pejabat, pengusaha-sampai para politisi. Ada muka lama yang masih bertahan atau masih terpilih lagi, tapi lebih banyak muka baru. Hal ini menjadi ujian bagi anggota DPRD yang baru. Di pundak mereka masyarakat Jakarta menggantungkan harapanya. Janji-janji saat kampanye ditunggu buktinya.

Dari data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DKI Jakarta, hanya 25 dari 75 anggota DPRD DKI Jakarta periode 2004-2009 yang kembali menghuni kantor di Kebonsirih, selebihnya adalah muka baru. Penetapan 94 kursi DPRD DKI dengan komposisi Partai Demokrat memperoleh 32 kursi,  PKS 18 kursi, PDIP 11 kursi, Partai Golkar 7 kursi, PPP 7 kursi, Gerindra 6 kursi, PAN 4 kursi,  PDS 4 kursi, Hanura 4 kursi dan PKB 1 kursi. Jumlah anggota DPRD DKI periode 2009-2014 sebanyak 94 kursi.

Pertanyaanya, apakah mereka yang baru terpilih mempunyai kualitas yang bisa diharapkan untuk melakukan terobosan positif  pada wajah Jakarta ke depan? Bagaimna mereka membangun hubungan dengan pihak Pemprov? Ataukah hanya akan menimbulkan pesimisme dan cibiran dari masyarakat ?

“Masing-masing dari kita yang terpilih sebagai anggota dewan harus koreksi diri. Sebagai anggota dewan yang baru harus belajar dan menyesuaikan diri. Sehingga keputusan yang diambil sesuai dengan keputusan masyarakat. Dan yang terpenting adalah bisa menciptakan konsolidasi diantara sesame anggota dewan. Untuk hubungan eksternalnya yaitu membina kerjasama dengan pihak pemerintah daerah sebagai mitra kerja. Jangan ada rasa curiga,” kata H. Boy Bernadi Sadikin.

Bagi Boy, ketua DPC PDIP Jakarta Selatan yang baru saja terpilih sebagai anggota DPRD DKI ini, untuk urusan lebih besar menyangkut masyarakat banyak harus diutamakan. Membuang ego sektoral, sehingga peran seorang anggota dewan dapat berjalan maksimal dan dirasakn mampaatnya. Untuk anggota legislative terpilih pada 2009, diharapkan lebih meningkatkan hubungan kerjasama dengan pihak eksekutif / pemerintah. Namun tetap saling menghormati perannya masing-masing.

“Hubungan dewan dengan pemerintah provinsi yang selama ini terjadi lebih pada persoalan ego masing-masing dari kedua belah pihak. Disini yang terpenting adalah begitu seseorang telah terpilih sebagai anggota dewan, sudah seharusnya yang bersangkutan melepaskan baju partainya. Karena disini berjuang untuk kepentingan rakyat,” kata Boy.

Dalam pandanganya, jika pola pikir seperti ini masih melembaga, maka persoalannya bisa bertambah runyam. Akibatnya, masyarakat yang telah memberikan suaranya hanya menjadi korban. Selama ini yang terjadi seperti itu, sehingga masyarakat disajikan tontonan berupa penangkapan anggota dewan karena korupsi.

Program pertama yang akan dilakukan saat dilantik adalah mempelajari persoalan dan membuat skala prioritas. Dengan begitu mempunyai panduan dan planning yang jelas dalam bekerja. Semua rencana besar ini dapat terealisasi jika ada kerjasama diantara semua pemangku kepentingan.

“Untuk memajukan DKI ke depan, pemerintah provinsi harus mempunyai perencanaan yang matang. Tidak mudah berubah setiap ada pergantian gubernur. Sehingga master plan kota DKI dapat berkesenambungan dengan baik,” tambah anak mantan gubernur Ali Sadikin ini.

Sementara bagi pengamat politik, kehadiran wajah baru anggota DPRD DKI bisa membawa pengaruh positif atau sebaliknya. Dengan pikiran baru yang belum terkontaminasi, mereka diharapkan dapat menghasilkan kebijakan positif yang dapat membawa perubahan pada kondisi masyarakat Jakarta yang hetrogen. Tapi itu pun belum cukup. Yang terpenting adalah mereka di beri pembekalan sebagai modal untuk berperan sebagai anggota dewan.

“Wajah baru anggota DPRD DKI diharapkan dapat berbuat lebih banyak untuk masyarakat. Yang terpenting disini mereka tidak mudah terkontaminasi pada virus korupsi yang dapat menjerumuskan mereka. Selain itu peran partai politik asal para anggota dewan ini untuk memberikan pembekalan apa yang akan dilakukan dan peran yang akan dimainkan sebagai seorang anggota dewan,” kata Lili Romli, pengamat politik dari LIPI. (Gaus)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: