Perjalanan Hidup Nana Ikhwan Maulana, Sang Bomber di Ritz Carlton

Ny Jubaidah ibu kandung Nana Ikhwan Maulana

Ny Jubaidah ibu kandung Nana Ikhwan Maulana

“Nana Sosok Yang Selalu Ingin Tahu”

Selama hidup almarhum Nana Supriatna atau Nana Ikhwan Maulana, pelaku peledakan bom di Ritz Carlton, Jumat 17 Juli silam, memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap pengetahuan.

Hal ini dibenarkan pembina remaja Kampung Listrik dan Kebon Pisang Ustad Fathoni. “Dari remaja lain yang mengaji kemari. Nana orang yang ingin tahu banyak hal, terutama agama,” kata Ustad Fathoni di Posko Biro Masalah.

Nana, lanjut Fatony, tidak jarang mengungkapkan uneg-unegnya soal sosial, politik, dan agama. Kalau bertukar pikiran, Nana kerap datang sendiri. Namun demikian Nana bukan satu-satunya orang yang datang ke sini.

“Yang kemari bukan Nana saja. Banyak remaja lain yang juga datang ke sini. Kalau datang dengan remaja lain, Nana diam saja,” katanya, “Tapi kalau sendiri Nana biasa mengungkapkan apa saja.”

Ustad Fathoni melihat Nana remaja yang cukup memperhatikan kondisi lingkungannya. Satu contoh ketika Nana mendapatkan banyak remaja minum-minuman, ia datang ke gurunya ini.

Bukan itu saja, Nana pun kerap beradu pendapat soal pandangan politik dewasa ini yang jauh dari agama Islam. Ia sempat melontarkan tidak akan memilih dalam pemilu nanti kepada Ustad Fathoni.

“Saya gak mau milih dalam pemilu nanti. Karena memang gak ada orang bisa dipilih,” kata Fathoni menirukan ucapan Nana tempo hari.

Mendengar ini Ustad Fathoni menjelaskan bahwa apa yang terjadi di Indonesia adalah produk politik. “Saya bilang ke Nana kalau mau merubah harus masuk sistemnya. Gak milih aja gak cukup,” kata Fathoni.

Fathoni sempat memarahi Nana lantaran pandangan politiknya. Ia memafhumi apa yang dirasakan Nana. “Saya sempat goblok-goblokin Nana soal politik.” Lantas apa pandangan politik ideal menurut Nana? Seperti diceritakan Fathoni, Nana mengidealkan politik negara madani yang ada di Madinah era nabi Muhammad.

Tapi Fathoni tidak mengetahui dari mana Nana mengenal konsep negara madani ini. “Mungkin karena kebiasaannya membaca ia tahu banyak hal. Kan ia juga aktif ikut ngaji ke sana kemari.” katanya.

“Saya sempat aneh ke Nana. Ia perhatian dengan tetangga yang gak punya beras. Tapi ia gak pernah bilang kalau dia juga gak punya.” Selain perhatian, Nana aktif di kegiatan karang taruna desa. Ia memiliki banyak ide. Ia juga kenal dengan banyak orang. Tak heran berkat rekomendasi kapolsek dan lurah setempat, Nana bisa kerja di PLTU Labuan.

Kedekatan Nana dengan kapolsek berawal dari kegiatan karang taruna. Kebetulan kapolsek adalah orang yang aktif dengan remajanya. Sewaktu diadakan Bhayangkara Fair 2008 lalu, Nana menjadi salah satu panitianya. Ia memegang Sie Humas.

“Dari sini saya ajukan Nana agar kapolsek merekomendasikan dia untuk kerja di PLTU. Setelah kapolsek menyetujui, lurah menyetujui. Nana akhirnya bisa kerja di sana. Bukti rekomendasi itu masih ada,” kata Fathoni.

Bagi saya, Ustad Fathoni, Nana seperti adik sendiri. Ia saya besarkan sejak kecil sampai besar. Tapi setelah besar ada orang yang memanfaatkan dia. Terkait kematian Nana, kapolsek juga sempat kaget. Ia tidak menyangka. “Kapolsek kaget dengar Nana begini.”

Ustad Fathoni, biasa dipanggil abah oleh remaja Kampung Listrik dan Kebon Cau, mengenal Nana sejak umurnya 19 tahun. Ia tidak menyangka Nana akan berakhir seperti ini. Ustad A. Fatony tercatat sebagai ketua FKPM (Forum Komunikasi Polisi dan Masyarakat)

Teka-teki siapa pelaku pengeboman hotel Ritz Carlton Jakarta, Jumat (17/7), akhirnya terjawab pada Jumat pagi (14/8) lalu. Pelakunya, adalah adalah Nana Supriyatna alias Nana Ikhwan Maulana (27) warga Kampung Kebon Cau RT 02/RW 13, Desa/Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Diketahui, jenazah Nana Supriyatna adalah jenazah yang paling lama diidentifikasi. Bagian tubuhnya yang hancur akibat peledakan bom bunuhdiri, menyebabkan tim identifikasi kepolisian mengalami kesulitan untuk mencari sampel pembanding DNA.

“Karena untuk mendapatkan perbandingan DNA, kami mengalami kesulitan,” kata Wakil Kepala Divisi (Wakadiv) Humas Mabes Polri Brigjen Pol Sulistyo Ishak di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (14/8).

Lebih lanjut dikatakan, identifikasi terhadap jenazah Nana lebih lama dibanding Dani Dwi Permana yang berperan sebagai bomber Hotel JW Marriott, karena ayah kandung Nana telah meninggal dunia.

“Kita tidak cukup membandingkan dengan ibunya saja, yaitu Ny Jubaedah, tapi juga saudara kandungnya yang lain, yakni Endang Sutisna, Juhra dan Komarudin, serta Unun keponakan Unan,” katanya.

Ustad Fathoni, perwakilan dari keluaga besar Ny Jubaedah, mengatakan, awalnya keluarga tidak menyangka jika pelaku bom bunuh diri di Hotel Ritz Carlton adalah Nana Maulana. Namun, keluarga akhirnya mengakui setelah hasil tes DNA yang dilakukan anggota densus 88 Polda Banten ternyata cocok dengan sampel DNA, Nana Ichwan Maulana.

“Kami tidak menyangka Nana Maulana ini melakukan perbuatan seperti itu. Karena, kami kenal benar, Nana orangnya baik dan penurut serta rajin ibadah. Meskipun benar anak kami ini melakukan pengeboman di Ritz Carlton , dia itu hanya korban dari perekrutan orang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

Ustad Fathoni
Ustad Fathoni

Menurut Fathoni, atas nama keluarga, pihaknya sangat mengecam orang dan pihak yang telah merekrut Nana hingga menjadi korban. Nana Maulana bukanlah teroris, namun dia diperalat oleh kelompok mereka yang sadis. “Kami mengutuk keras kelompok teroris yang telah merekrut dan mengorbankan Nana,” ujarnya.

Selain itu, kata Fathoni, dia pun membantah semua kabar dan dugaan yang menyudutkan Nana Maulana pernah pergi ke Ambon, dan Jawa. Sebab, Nana ini baru beberapa bulan saja menghilang, dan sekarang telah diketaui tewas, karena diperalat kelompok tertentu hingga nekad melakukan bom bunuh diri.

“Saya prihatin dengan kejadian ini. Tak yakin Nana pelaku bom bunuh diri karena bapaknya (almarhum Sarmedi-red) merupakan orang yang beragama,” ujar Ahmad Fathoni, juru bicara pihak keluarga.

Tokoh Agama dan Tokoh masyarakat setempat ini menerangkan, sikap radikal yang dilakukan Nana, kemungkinan karena terprovokasi oleh faham Noordin M Top. Dia (Nana) terlibat kegiatan tersebut setelah aktif berdakwah.

“Saya minta teroris kelas kakap (Noordin M Top-red) segera ditangkap. Tembak mati di tempat, karena tindakannya telah merusak faham dan pemikiran generasi muda,” ujar Fathoni yang mengaku kerabat dekat keluarga Nana.

Sementara Endang Rohman Syah, warga RT 1 RW 13, Kampung Kebon Cau, Desa/Kecamatan Labuan menerangkan, Nana Supriyatna alias Nana Ikhwan Maulana merupakan aktivis Islam yang pemberani.

Almarhum ketika umur 20 tahun sempat menjadi anggota Mujahid Poso. “Nana sempat bercerita kepada saya menjadi aktivis jihad Poso bersama warga dari pulau Jawa lain,” tutur Endang.

Sementara itu, Sabtu (15/8), empat kakak kandung Nana, yakni Ny Yuniani, Endang Sutisna, Juhra dan Komarudin, menyatakan atas nama keluarga meminta maaf atas perbuatan Nana.

“Adik saya hanya korban, apa pun yang terjadi saya minta maaf kepada seluruh bangsa ini, karena ini anak bangsa juga,” ujar Endang Sutisna, seraya menambahkan kejahatan terorisme harus menjadi tanggung jawab bersama. Kejahatan ini urusan kita semua, karena ini korban ketidakadilan. Korban pemahaman.

Hobi Baca Buku Jihad

Nana Maulana alias Nana Ikhwan Maulana (28) ini, dikenal sosok pria ramah dan baik. Anak paling bungsu dari lima bersaudara pasangan suami istri Jubaedah (60), dan almarhum Sarmedi (63) ini, tinggal di Kampung Kebon Cau, Desa/Kecamatan Labuan , Pandeglang. Jarak rumah Nana ke jalan raya atau ke kantor Polsek Labuan hanya 500 meter, dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Setibanya di TPU dan sebelum dikebumikan, peti jenazah Nana Ikhwan Maulana disholatkan simpatisannya
Setibanya di TPU dan sebelum dikebumikan, peti jenazah Nana Ikhwan Maulana disholatkan simpatisannya

Nana Supriyatna yang dikenal warga sangat pendiam ini, lulusan SDN Cigondang 5, yang sekarang menjadi SND Cigondang 2, Kecamatan Labuan. Sebagai anak paling bungsu di keluarga ibunya Ny Jubaedah, Nana pun tercatat anak paling baik, dan rajin ibadah. Namun di luar sepengetahuan keluarganya, diam-diam pria ini menyukai buku-buku tentang jihad.

Meski demikian, tidak ada seorang warga termasuk keluarganya mengetahui jejak Nana pada usia dewasa pernah pergi ke Poso, Ambon, dan ke Jawa. Keluarganya hanya mengetahui Nana pernah tinggal di Bandung bersama kakaknya.

Adapun Lia, teman main Nana Supriyatna alias Nana Ikhwan Maulana di kampung, mengaku kenal dekat dengan Nana. Bahkan Nana sering main di rumahnya bersama teman sekampung. Dia tidak banyak ngomong, namun sesekali suka banyak membicarakan soal ibadah.

Lia juga mengaku pernah memeregoki Nana memegang buku, seperti buku Jihad. Karena Nana ini hobi membaca, hingga Lia pun menilai hal itu biasa. “Saya pernah meminjam buku yang sedang dibaca Nana. Namun dia, tidak mau memberikan atau meminjamkan buku itu. Saya juga tidak ingat lagi judul buku atau sampul buku yang sering dibaca Nana,” kata Lia.

Karena memiliki sifat baik, kata Lia, Nana pun sering didengar nasehatnya oleh teman sejawatnya. Wajar jika nasehat Nana didengar teman-temannya, karena Nana memang diberi kepercayaan sebagai ketua Karangtaruna di Kampung Kebon Cau, Desa/Kecamatan Labuan.

“Kalau tidak salah, salah ketika Hut Bhayangkara 2008, Nana pun aktif melakukan rapat di Polsek, dan Nana sempat jadi panitia Bhayangkara Fair 2008 yang diselenggarakan Polsek Labuan. Dia sangat antusias mengajak pemuda untuk memeriahkan HUT Bhayangkara di Polsek Labuan ,” ujar Lia.

Dibalik sifat pendiamnya itu, tidak seorang warga, maupun keluarga mengetahui pergaulan Nana di luar. Sekitar tanggal 20 Juni 2009, Nana yang lahir di Kampung kelahiran almarhum ayahnya di Munjul Pandeglang ini pun, pergi meninggalkan Kampung Kebon Cau Labuan, Pandeglang Banten.

Nana pergi tidak meninggalkan pesan kepada orang tuanya. Namun kata sepupunya bernama Ida, Nana pernah bilang ke ibunya, akan pergi untuk berjihad. Selama kepergian Nana, keluarganya merasa kehilangan. Setelah tidak ada kabar, keluarganya melaporkan Nana hilang ke Polsek Labuan. Laporan kehilangan itu terjadi sejak Nana pergi meninggalkan kampung tanpa memberitahu sebelumnya kepada orang tuanya. Akan tetapi, sebelum kejadian bom bunuh diri di Ritz Carlton, Nana sempat mengirimkan surat via pos kepada kakak dan ibunya, yang menyatakan dirinya sudah bekerja.

Namun, sebagai ibu yang melahirkan Nana, muncul kecemasan, ketika melihat tayangan berita bom bunuh diri di Rtz Carlton, dan menyebut-nyebut pelakunya bernama Nana Ichwan Maulana Warga Pandeglang. Dari serangkaian kabar itulah, kesehatan ibunya mulai terganggu, dan naluri seorang ibu meyakini pelaku bom bunuh diri bernama Nana Ichwan Maulana itu tidak lain, diyakini anaknya yang menghilang sejak bulan Juni 2009 lalu.

Juhra kakak kandung Nana Ikhwan Maulana di tengah-tengah simpatisan
Juhra kakak kandung Nana Ikhwan Maulana di tengah-tengah simpatisan

Dikenal sebagai Sosok yang Kalem dan Mudah Bergaul

Nama Nana Supriyatna alias Nana Ikhwan Maulana menjadi buah bibir karena menjadi pelaku bom bunuh diri di Hotel Ritz Carlton, beberapa waktu lalu. Padahal warga Kampung Kebon Cau, Desa/Kecamatan Labuan, Pandeglang Banten itu, dikenal sosok pemuda yang baik.

Kediaman keluarga Nana Supriyatna di Kampung Kebon Cau, yang berjarak 500 meter dari Mapolsek Labuan, mendadak ramai dikunjungi orang. Itu terjadi setelah Mabes Polri mengumumkan bahwa pelaku pengeboman di Ritz Carlton adalah Nana Supriyatna. Mabes Polri berani memastikan bahwa pelaku adalah Nana, setelah mencocokkan DNA keluarga Nana.

Dalam pantauan, pada Jumat (14/8), sejak pukul 08.30-18.00 WIB, di kediaman Nana tampak riuh. Ratusan warga dan puluhan wartawan dari berbagai media cetak dan elektronik tumplek di sekitar kediaman Ny Jubaedah, ibu kandung pelaku bom bunuh diri itu.

Jalan Gang Gedong Panjang, sekitar 100 meter dari eks Stasiun Labuan, seharian susah untuk dilewati. Selain dipadati kendaraan roda dua yang terpakir, kondisi ini juga diperparah banyaknya warga yang terus berdatangan ke kediaman Nana yang ingin memastikan kebenaran kabar bahwa Nana adalah pelaku bom bunuh diri.

Untuk mengamankan kesibukan itu, aparat kepolisian tampak bekerja keras. Mereka terus mengatur arus orang yang hilir mudik. Meski tidak dilengkapi dengan senjata, namun di beberapa penjuru atau titik keramaian terlihat petugas yang di-pos-kan. Termasuk anggota polisi berpakaian preman dari Polres Pandeglang dan Polda Banten.

Sementara di kediaman Nana, tidak seorang pun anggota keluarga yang berani keluar rumah. Ny Jubaedah, ibu kandung Nana yang didampingi Yunaini, kakak sulung pelaku, tetap bertahan di dalam kamar.

Yuyun saapan sehari-hari Yunaini, ikut mendampingi orangtuanya yang terkulai lemas karena mengalami shock. “Nana Supriyatna merupakan sosok pemuda yang baik. Dia cukup kalem dan selalu menyapa jika berpapasan,” ujar Nurhayati, tetangga pelaku yang rumahnya berdekatan.

Selain perhatian terhadap tetangga, Nana juga merupakan sosok pemuda yang aktif, tak pernah absen dalam setiap kegiatan kemasyarakatan. Terutama dalam menyukseskan kegiatan peringatan hari besar nasional (PHBN) dan peringatan hari besar Islam (PHBI).

“Dalam bergaul dan cara berpakaian tidak ada yang aneh. Dia (Nana-red) sama seperti pemuda yang lain. Dia juga punya keahlian menggunting rambut. Bahkan tiga bulan lalu sempat bekerja di PT Truba, pelaksana pembangunan proyek PLTU Labuan 2 sebagai penarik kabel,” tutur Nurhayati seraya mengaku sudah dua bulan tidak lagi bertemu dengan Nana.

Dilihat dari segi ekonomi, pelaku bom bunuh diri di Hotel Ritz Carlton itu tergolong berasal dari keluarga yang kurang mampu. Selama hidupnya Nana tinggal bersama ibunya, Ny Jubaedah, di rumah yang sangat sederhana berukuran 8×4 meter. Rumah berdinding triplek ini milik Udin, menantu yang menikah dengan anaknya bernama Yuyun.

Dari umur 7 tahun, Nana Supriyatna dibesarkan di rumah tersebut. Sejak ayahnya meninggaldunia pada tahun 1981, Nana dibesarkan oleh ibunya, dan hanya mampu menamatkan sekolah dasar (SD) yang saat itu masih bernama SDN Cigondang 5, Kecamatan Labuan yang sekarang menjadi SDN 2 Cigondang.

Sampel DNA Keluarga Jubaedah Dinyatakan Cocok

Warga Labuan Siapkan Kuburan Nana Ichwan Maulana

Warga Kampung Kebon Cau, Desa/Kecamatan Labuan, Pandeglang, kemarin telah mempersiapkan liang lahat (kuburan) untuk Nana Malulana alias Ichwan Maulana (28) , pelaku bom bunuh diri di Ritz Carlton, Kuningan Jakarta, pada Jum’at (17/7).

Warga mempersiapkan kuburan sejak Jum’at sore (14/8), setelah mendapat kabar dari keluarga Jubaedah yang menyatakan hasil tes DNA yang diambil tim densus 88 dua hari lalu, dinyatakan cocok dengan DNA milik Nana Ichwan Maulana , pelaku bom bunuh diri.

Sebelumnya, pada Rabu (12/8) tim densus telah mengambil sampel DNA dari ibu kandung Nana, Ny Jubaedah dan Unan keponakan Nana, serta pada Kamis (13/8) densus 88 kembali mengambil sample darah tiga kakaknya Nana, yaitu Endang, Juhra dan Komaruidin.

Unan keponakan Nana Ikhwan Maulana, menyatakan, semasa hidupnya, Nana memang terbilang orang yang baik dan ramah. Bahkan, sebelum menghilang dari kampung ini, dia ditunjuk sebagai ketua karangtaruna Desa Labuan.

Para pemuda pun selalu percaya kepadanya, karena orangnya tidak pernah membuat kesal. Dia juga rajin pergi ke mesjid, dan tidak pernah punya salah kepada teman sebayanya.

“Saya mengenal dekat sosok Nana sebagai pria yang sopan, baik, suka menolong dan taat ibadah. Namun soal kegiatan di luar, saya tidak tahu menahu,’ katanya.

Sementara itu, terkait keterlibatan Nana dalam kegiatan Bhayangkara Fair, dibenarkan Kapolsek Labuan, AKP Rishian Krisna.”Dalam kegiatan Bhayangkara Fair, semua komponen masyarakat dan kepemudaan dilibatkan, diantaranya Nana selaku ketua Karang Taruna Desa Labuan,”ujar Kapolsek Labuan.

Warga Saksikan Pemakaman Nana

Warga Labuan dan sekitarnya, Jum’at malam (14/8) sekira pukul 20.00 WIB berduyun-duyun menyaksikan proses pemakaman Nana Supriyatna alias Nana Ikhwan Maulana, pelaku bom bunuh diri di Hotel Ritz Carlton, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Kebon Cau, Desa/Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang.

Masyarakat datang lebih awal, sekira 30 menit atau sebelum ambulans Nopol B 1017 TIX tiba di lokasi. Jasad Nana yang diambil dari RS Polri Jakarta, tidak dibawa ke rumah duka duku. Jenazah langsung dimakamkan.

Prosesi pemakaman yang dipimpin tokoh masyarakat setempat Ustadz Zaenudin tampak singkat. Peti mati berukuran panjang 75 sentimeter dan lebar 40 sentimeter langsung dimasukkan ke dalam liang lahat yang telah tersedia pukul 16.30 WIB setelah sebelumnya disalatkan di sekitar areal pemakaman.

Tidak ada warga yang menolak kegiatan ini, kecuali sikap simpatik yang dibuktikan dengan kehadiran ratusan simpatisan Mujahid dan seribuan warga masyarakat yang datang untuk melayat. Simpatisan dan warga mengucapkan takbir dan salawat, sepanjang perjalanan peti jenazah digotong dari mobil ambulans hingga masuk liang lahat.

“Mudah-mudahan amal dan kebaikan almarhum diterima Allah SWT,” ujar Ustadz Zaenudin, usai menyalatkan. Sementara salah seorang warga, Hada Suryana menerangkan, membludaknya warga pada prosesi pemakaman Nana karena rasa simpatik. “Tidak hanya itu, masyarakat pun ingin turut membantu proses pemakaman sebagai sikap turut bela sungkawa,” katanya.

Nana Jumhana, Sekretaris Desa (Sekdes) Labuan, Kecamatan Labuan menerangkan hal serupa. Kata dia, iring-iringan warga pada saat proses pemakaman merupakan sikap proaktif warga dalam membantu masyarakat lain yang tengah dilanda musibah.

“Tidak ada maksud dan tujuan lain dari masyarakat, kecuali sikap saling tolong-menolong. Karena semasa hidupnya, warga kami bernama Nana Supriyatna merupakan pemuda yang baik dan suka saling tolong,” ungkapnya.

Namun demikian, Nana Jumhana masih belum yakin warganya telah terlibat aksi anarkis. “Selain warga, dia (Nana Ikhwan Maulana-red) merupakan teman dekat. Dalam kesehariannya, sikap ia ramah dan tampak pendiam,” kata Sekdes itu.

Selama upacara pemakaman, seluruh titik keramaian dari mulai jalan masuk kediaman keluarga sampai lokasi pemakaman dipenuhi anggota polisi dari Polres Pandeglang dan Polda Banten. “Alhamdulilah aman, tidak ada sedikit pun masalah yang terjadi,” ujar Waka Polres Pandeglang, Kompol Deni yang turut hadir di pemakaman.

Nana Ikhwan Maulana Direkrut di Luar Pandeglang

Ratusan simpatisan menghadiri pemakaman Nana Ikhwan Maulana
Ratusan simpatisan menghadiri pemakaman Nana Ikhwan Maulana

Nana Ikhwan Maulana, warga Kampung Kebon Cau, Desa Labuan, Pandeglang, Banten, yang merupakan pelaku bom bunuh diri di Hotel Ritz-Carlton Jakarta pada 17 Juli lalu, ternyata sudah sering meniggalkan rumah berbulan-bulan.

Menurut Fathoni, tokoh masyarakat setempat yag juga juru bicara keluarga Nana mengatakan, bukan kali ini saja Nana meniggalkan kampungnya dalam waktu lama, “Nana sering tiga sampai empat bulan tidak pulang,”ujar Fathoni, saat menerima Lampu Hijau bertempat di Posko Biro Masalah yang berada didepan rumahnya, Sabtu (15/8).

Jika keluar rumah, kata Fathoni, Nana tidak pernah memberitahukan tujuannya secara rinci, “Biasanya dia hanya bilang mau kerja ke luar kota,” katanya. Karena sering keluar rumah itulah, kata Fathoni, kemungkinan Nana direkrut oleh orang lain diluar Pandeglang untuk menjadi “pengantin” bom bunuh diri.

Di Pandeglang, Fathoni melanjutkan, Nana tidak memililiki ustadz khusus.“Tidak ada ustad khusus yang dia ikuti disini,” katanya. Bahkan, katanya, Nana selalu mengikuti kegiatan pengajian ceramah agama dari ustad siapapun jika adara di desanya.

Selain itu, kata Fathoni, Nana hanyalah jebolan Sekolah Dasar. Meski begitu, dia dikenal sebagai pemuda yang cerdas dan mudah bergaul. Di Desa Labuan, Nana tercatat sebagai pengurus Karang Taruna, “Kalau dia lagi ada dirumah, jika ada kegiatan masyarakat dia selalu ikut,” katanya.

Berdasarkan pantauan Lampau Hijau, kediaman keluarga Nana di Kampung Kebon Cau, pasca pemakaman Nana Ikhwan Maulana, kembali normal. Tidak seperti sehari sebelumnya, dimana rumah ibunda Nana terus ramai didatangi warga sekitar.

Nana Pernah Mengaku Ingin Balas Dendam pada Amerika dan Israel Nana Ikhwan Maulana, warga Kampung Kebon Cau, Desa Labuan, Pandeglang, Banten, yang merupakan pelaku bom bunuh diri di Hotel Ritz-Carlton Jakarta pada 17 Juli lalu, sebelumnya pernah mengaku geram dan ingin membalas kepada Amerika dan Israel karena dinilai telah menyusahkan umat Islam.

“Nana sering mengeluhkan bahwa dia sangat membenci Amerika dan Israel yang telah memerangi Negara-negara Islam,” ujar Fathoni, tokoh masyarakat setempat yang juga juru bicara keluarga Nana.

Menurut Fathoni, jika berada dirumah Nana memang sering datang ke rumah Fathoni untuk mencurahkan isi hatinya. Puncak kebencian Nana pada Israel dan Amerika adalah saat Israel menggempur Gaza, Palestina, pada awal tahun 2009 lalu, “Dari situlah dia sangat ingin berangkat ke Palistina untuk berjihad,” katanya.

Fathoni mengatakan, selain soal Palestina, Nana juga sangat gelisah jika menyaksikan perang antara Amerika dan Afganistan serta Irak, “Mungkin dari situ ia mudah direkrut oleh orang-orang yang mempunyai tujuan memusuhi orang asing seperti Noor Din M Top,” katanya.

Setiap Nana mengungkapkan perasaanya ingin membalas Amerika dan Israel, Fathoni menjelaskan, dirinya sudah meredam keinginan Nana tersebut, “Saya sudah sampaikan, kamu punya keahlian apa jika berangkan ke Palestina?” ujar Ustad Fathoni yang juga merupakan Ketua FKPM Polsek Labuan.

Berdasarkan pengakuan Dadang Romansyah, seorang teman dekat Nana Ikhwan Maulana di Kampung Kebon Cau, Pandeglang, ia mengatakan bahwa Nana temannya itu pernah mengikuti perang di Poso dan Ambon pada saat konflik sekitar tahun 2005 lalu.“Nana memang pernah ke Poso dan Ambon ikut berperang,” ujar Dadang.

Sebelum berangkat ke Dua lokasi konflik itu, Nana, kata Dadang, juga perah mengikuti latihan perang di daerah Cirata, Kecamatan Menes, Pandeglang, pada tahun 2001. Saat pelatihan itu, polisi berhasil menggerebek dan menangkap sejumlah orang, namun Nana berhasil melarikan diri.

Sementara menurut teman sepermainan Nana, yaitu Burhan, sebelum akhirnya menghilang dari Kampung Kebon Cau, Nana sempat melakukan ziarah ke makam Imam Samdera di Lopang Serang, Banten.”Itu adalah pertemuan terakhir saya dengan Nana sebelum akhirnya, tidak ada lagi kontak dan kabar tentang keberadaan Nana,”ujarnya. (***)

Ustad Fathoni dan Aceng Saprudin di Posko Biro Masalah.
Ustad Fathoni dan Aceng Saprudin di Posko Biro Masalah.

3 Tanggapan

  1. Beginilah jadinya jika memahami islam menurut pemahaman kita sendiri atau menurut pemahaman orang2 yg tidak memiliki ilmu yg cukup. Seharusnyalah kita memahami islam dengan merujuk kepada pemahaman Asshalaafusshalih…

  2. hai,
    sy Agus Suhanto, tulisan yg bagus🙂
    salam kenal yee

  3. salam, saya Agus Suhanto, tulisan yang oke🙂 … lam kenal yaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: