Paragat Butuh Bantuan Pemerintah

Tapsel, CN – Masyarakat yang menekuni pekerjaan sebagai petani pohon nira—sekaligus pemilik usaha gula aren (paragat), terancam akan meninggalkan usahannya, karena harga gula aren terus turun akibat permainan pengepul. Harga gula aren tidak pernah stabil, sehingga sulit diandalkan sebagai mata pencaharian.
Harga gula aren lebih ditentukan para pengepul. Para pengepul itu membeli dari petani murah, namun mereka menjualnya mahal kepada konsumen. Sementara pohon aren terus berkurang. Akibatnya, banyak orang yang tidak mau lagi jadi paragat dan pemerintah terkesan tidak pernah memperdulikan masalah ini.
“Dari dulu mekanisme pasar seperti ini membunuh para paragat. Seharusnya pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tapanuli Selatan (Tapsel) memberikan bantuan dana, agar para pentani dan pengusaha gula aren dapat terbantu. Sebab potensi alam yang mendukung bisa dijadikan aset untuk meningkat tarap ekonomi masyarakat,” ujar ,” ujar Amrul Siregar, salah seorang paragat dari Desa Padang Bujur, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Untuk menghasil gula aren juga tidak mudah. “Kalau harganya juga tidak jelas kan bikin orang semakin malas jadi paragat. Harga gula aren saat ini berada di bawah Rp 10.000,- per kg. Sementara masyarakat mengeluti usaha tersebut untuk menambah dan menutupi kebutuhan sehari-hari. Sekalipun proses pengolahannya, hingga Air Nira menjadi Gula Aren mebutuhkan waktu, tenaga, kesebaran dan ketelitian,” ungkap Amrul, seraya mengungkapkan kalau bulan Ramadhan biasanya harga naik.
Proses produksi gula aren itu, kata Amrul, berawal dari pohon nira yang memiliki tandan yang masih muda. Tandan tersebut dibersihkan lebih dulu, sehingga ijuk yang membalut tandan tersebut dalam keadaan bersih. Baru petani gula aren menyediakan kayu sebesar kepal tangan orang dewasa yang disebut dengan gual-gual (pemukul tandan nira).
Fungsi gual-gual itu untuk memukul bagian batang tandan nira yang akan dijadikan sebagai sumber keluarnya air nira. Setelah itu petani Nira harus menyediakan tali sepanjang ukuran tingginya pohon Nira tersebut, gunanya untuk mengayun-ayunkan tandan.
Sebab, menurut pemahaman masyarakat, mengayun-ayun tanda nira itu termasuk tradisi agar waktu pemotongan tandan airnya menjadi banyak. Baik pemukulan maupun mengayun-ayunkan tandan membutuhkan waktu selama 6 bulan. Jika terlihat sudah kondisi matang, barulah tandan tersebut dipotong sehingga airnya keluar dan ditampung dengan garigit atau garung (tempat menampung air nira yang keluar dari tandannya).
Garigit atau aarung yang dijadikan sebagai penampung air nira harus dalam keadaan bersih dan kering agar air niranya tidak rusak. Sebab, jika rusak air nira tidak bisa dimanfaatkan lagi untuk dijadikan sebagai gula aren. Di dalam garigit maupun garung itu dimasukkan raru (campuran atau pengawet air nira agar tetap jernih red).
Pengambilan air nira itu, dilakukan dua kali dalam sehari semalam. Setelah air nira dikumpulkan, selanjutnya proses pemanasan, tak obahnya seperti merebus air, hingga air nira itu sampai setengah matang. Masyarakat setempat biasa menyebutnya dengan sebutan tangguli (air nira yang direbus setengah matang dan sudah bisa disimpan selama 6 bulan).
Proses merebus air nira membutuhkan waktu yang lama. Dalam ukuran 10 kilogram air nira membutuhkan waktu sekitar 4 jam atau 5 jam baru bisa menjadi tangguli. Setelah terkumpul menjadi tangguli, kemudian direbus kembali dan disediakan jenis tuangan atau cetakan. Gula Aren yang sudah dalam kondisi matang dimasukkan dalam tuangan atau cetakan, lalu proses pengolahan dapat dikategorikan selesai dan hasil produksi sudah bisa dijual ke pasar. (Ali Siregar)

Satu Tanggapan

  1. lebih bagus jika ditampilkan foto untuk gambaran daerah paragat, atau mungkin petanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: