Legenda Pohon Aren/Enau

Tapsel ~  Di dalam masyarakat batak, aren/enau disebut bargot. Konon kata yang empunya cerita, pohon bargot ini diyakini sebagai jelmaan dari seorang putri cantik jelita (gadis) yang tiba-tiba hilang lenyap ditelan bumi, ketika menolak kehendak ayahnya untuk dinikahkan dengan seorang lelaki yang dipilih sang ayah. Nira bargot ditafsirkan sebagai air mata sang putri, ijuknya sebagai rambut, dan daun sebagai iganya. Bargot berarti payudara dan sumber ASI.
Ketika seseorang hendak memulai menyadap nira, pekerjaan diawali dengan memukul-mukul tandan bunga jantan. Di saat inilah penyadap membaca mantera sambil memukul tandan. Di Sipirok malah dengan siulan kecil nyaring dan di Tanah Karo dengan nyanyian. Banyak masyarakat yang percaya hingga saat ini, maksud siulan dan nyanyian itu memohon ‘restu’ dari si dara Bargot agar meneteskan air matanya (nira) melimpah.
Rumah-rumah adat di Toba masih banyak rumah adat yang memakai ijuk sebagai atapnya dengan motif payudara di depan rumah (bagot ni huma). Di desa Cigalontang, Tasik Malaya, nira yang disadap dari aren melulu dijual untuk minuman ‘istimewa’ disebut legen. Di daerah ini dijuluki minuman para ‘dewa’.
Di Sipirok, pohon arennya ‘pintar’, dapat dijadikan alat penentu musim. Apabila produksi nira yang disadap tiba-tiba menurun, itu pertanda akan terjadi musim kering. Sebaliknya bila produksi nira tiba-tiba melimpah, pertanda akan musim hujan. Percaya atau tidak, yang pasti itu fakta.
Faktanya lain, pohon aren memiliki banyak manfaat. Di antaranya, tandan bunga jantan yang keluar dari ketiak daun aren. Bunga yang masih kuncup (belum mekar) kira-kira umur kurang 1 tahun setelah keluar dari ketiak daun, disadap agar keluar cairan getah bening (sap) lalu ditampung dengan bumbun terbuat dari bambu. Cairan bening inilah yang disebut nira. Rasanya manis, karena mengandung zat gula (saccharine). Itu sebabnya namanya aren dulu disebut Arenga Saccarifera, Labill. Selengkapnya Nira mengandung 80-85% air, 15% karbohidrat, 0,3% protein, 0,02% lemak, dan 0,24% abu.
Bila diberi ‘Raru’ (sejenis kulit kayu Waru) akan menjadi cairan yang mengandung alkohol (di tanah Batak disebut tuak, sejenis minuman tradisional yang memabukkan). Kalau difermentasi akan menjadi cuka (Vinegar). Jika vinegar didestilasi akan menghasilkan alcohol murni (kandungan alkoholnya 95%).
Nira dan tuak minuman favorit di berbagai daerah di Indonesia. Di Tapanuli Utara, tuak suatu minuman khas, terkenal di “pakter tuak” dengan Tambul (makanan pendamping) daging B1, B2, plus jengkol atau petai. Itupun belum lengkap. Setelah ‘mandorguk’ (menenggak) tuak, mulai panas, …….bergemalah lagu ciptaan Nahun Situmorang yang telah popular di manca negara: Lissoi……sirupma, dorguk ma, ingkon rumar doiiiiiiiii………ah, sombu tagas, ate lae Parmitu!
Itu sebabnya di Tapanuli Utara produksi gula sakka (gula aren) tidak banyak karena nira lebih banyak dibuat tuak. Apalagi populasi pohon arennya pun turut pula menyusut. Dibanding dengan Tapanuli Selatan, peminum tuak tidak sebanyak di Tapanuli Utara. Populasi aren pun jauh lebih banyak di Tapanuli Selatan, sehingga Tapanuli Selatan menjadi sentra produksi gula aren terbesar di Sumatra Utara.
Di Tapanuli Tengah meskipun aren banyak juga, tetapi Nira kelapa lebih popular dari pada Nira aren . dan produksi Nira kelapa jauh lebih rendah dari aren, 10 tanda buah jantan kelapa banding 1 tandan aren. Dari Nira kelapa diolah gula semut.
Kemudian, ada ijuk yang sangat bermanfaat untuk kebutuhan sehari-hari. Sepanjang (tinggi) batang pohon aren nyaris seluruhnya diselimuti ijuk, mulai dari serat yang paling halus hingga serat ijuk yang paling kasar. Penggunaan ijuk sebagai sapu rumah, tali dan brus belakangan ini telah digusur oleh industri plastik, namun penggunaan ijuk malah lebih tinggi.
Jerman dan Jepang sudah mengimport ijuk sebagai bahan baku untuk pembungkus kabel bawah tanah dan bawah air karena ijuk sangat kuat, tidak mudah rusak/ busuk. Bahkan konon ceritanya lapangan bola kaki yang bermutu harus dilapisi ijuk agar air tidak menggenangi tanah jadi becek. Begitu juga dengan konstruksi jalan raya berkualitas juga menggunakan ijuk. Ini berarti akan menghasilkan dolar, kan!
Sedangkan daun muda dijadikan orang di desa sebagai pembalut rokok, janur hiasan bahkan dapat dikonsumsi sebagai salads (T. Chairun Nisa Haris, 1994). Daun tua dijadikan atap rumah (dangau) dan pembungkus gula aren. Lidi diolah dari daun dijadikan sapu lidi, tusuk sate dan anyaman. Semuanya bernilai ekonomis.
Begitu juga dengan batang aren. Dewasa ini dapat mencapai ketinggian lebih 15 meter, bagian batang paling luar bila dikikis tampak seperti kayu warna hitam-coklat, padat dan sangat keras. Itu sebabnya batang aren dibuat jembatan atau lantai kandang. Air tidak terserap, tetapi seakan-akan tergelincir. Jadi walau terendam lama tidak mudah busuk. Tidak dimakan rayap, oleh karena sifat ini kayu batang aren dibuat untuk alat-alat pertenunan kain tradisional. Ada yang menggunakan untuk perabotan dan bahan bangunan rumah dan alat-alat lainnya.
Di bagian tengah batang mengandung bahan karbohidrat yaitu sagu. Di jawa Barat sagu ini disebut tapioka aren digunakan sebagai bahan baku membuat Mihun dan Sohun. Dari satu batang pohon aren dewasa dapat dihasilkan 50-100 kg sagu. Produksi maksimum sagu adalah pada saat aren mulai disadap dan akan menurun sampai batas minimun saat aren siap disadap.
(Ali Siregar)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: