Pasar Tradisional Makin Merana

CN, Jakarta : Kondisi pasar tradisional saat ini sangat mengenaskan. Menjamurnya pasar modern secara tidak langsung mematikan eksistensinya. Pemerintah sepertinya tidak peduli. Bagaimana nasib pedagang kecil?

Bagi yang suka berbelanja di pasar tradisional, bersiaplah memendam rasa kecewa. Kebutuhan akan barang-barang yang bisa dibeli, bahkan adanya ruang untuk proses tawar menawar bakal banyak yang gulung tikar. Betapa tidak hampir 80 persen pasar tradisional sudah berusia lanjut sehingga tidak layak huni sehingga tinggal menghitung hari.

Lebih mengenaskan lagi banyak yang harus tutup dengan berbagai alasan. Mulai dari hadirnya pasar modern, kurangnya perhatian pemerintah sampai dengan manajemen pengelolaan pasar yang tidak propesional. Data Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) menyebutkan ada sekitar 12-15 % dari jumlah 13.450 pasar tradisional yang ada di Indonesia terancam tutup.

Padahal sebagian besar usaha kecil dan menengah dpasarkan disini. Banyaknya pasar modern seperti Carrefour, hypermarket, Minimarket merupakan ancaman serius terhadap eksistensi pasar tradisiona.

“Kalau mau jujur, yang menjadi rayap bagi pasar tradisinal adalah kehadiran pasar moden seperti carefour, hypermarket dan lainnya yang punya kapital besar. Karena dalam peraturan presiden nomor 112 tahun 2007 dan peraturan Menteri Perdagangan nomor 53 tahun 2008 sangat memberikan keistimewaan pada Minimarket. Hadirnya peraturan ini semakin meminggirkan pasar tadisional. Ini memperlihatkan pemerintah tidak melindungi pasar tradisional,” kata sekjen APPSI Drs. Ngadiran.

Adanya pasar tradisional sangat membantu masyarakat khususnya masyarakat kalangan bawah untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Karena harga barang yang dijual disini masih dapat terjangkau. Kondisi ini yang membuat masyarakat tetap berbelanja di pasar tradisional, walaupun menjamurnya pasar modern.

Mengapa masyarakat enggan meninggalkan pasar tradisional? Menurut Ketua Dewan Pengawas Federasi Organisasi Pedagang Pasar Indonesia (FOPPI) Irfan Melayu, atmosper pasar tradisional membutuhkan keakraban antara pedagang dan pembeli, terutama saat tawar menawar. Satu hal yang tidak terjadi atau dijumpai pada pasar modern yang hanya menekankan pada nilai transaksi semata tanpa mempedulikan sisi lain dari hubungan keakraban.

Padahal yang dibutuhkan konsumen bukan hanya bangunan fisik yang mewah, tapi bersih, rapi dan nyaman. Irfan mengharapkan, jika dilakukan renovasi pada pasar tradisional harus menghasilkan keunggulan komparatif , terutama dari sisi harga jual barang sehinga tidak menjadi mahal.

Masih besanya minat masyarakat berbelanja di pasar tradisional dapat dilihat dari data yang dikeluarkan salah satu lembaga terkenal. Dalam shopper trend 2009, Nielsen mengungkapkan tingginya minatmasyarakat untu berbelanja di pasar tradisional, terutama untuk bahan makanan.

Tahun 2006-2008 sebesar 36-45 persen konsumen berbelanja buah dan sayuran segar di pasar tradisonal. Sebanyak 62-65 persen konsumen berbelanja daging segar di pasar tradisional. Adapun 53-61 persen konsumen berbelanja ikan segar di pasar tradisional.

Selain itu walaupun kehadiran pasar modern sehingga membuat persaingan makin ketat, namun hasil penelitian the Nielsen menunjukan pasar tradisional memiliki konsumen yang setia dan mempunyai pangsa pasar tersendiri.

Rencananya 91 pasar tradisional dan 13 kawsan makro dan usaha kecil seperti padagang kaki lima (PKL) menjadi target penyaluran stimulus fiskal. Sebenarnya jumlah ini sangat jauh dari jumlah pasar yang ada di Indonesia yang menantikan uluran tangan pemerintah.

Untuk itu Irfan mengharapkan renovasi pasar lebih diarahkan untuk lebih meningkatkan daya beli masyarakat. Ini bisa dilakukan bila lokasi pasar tradisional dekat dengan konsumen.       

Peran pemerintah sangat diharapkan untuk melindungi keberadaan pasar tradisional sebagai sentra perputaran ekonomi masyrakat. Mampukah itu dilakukan ? (***)

Satu Tanggapan

  1. kalah sama mol :s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: